Tampilkan postingan dengan label ummikhasanh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ummikhasanh. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 25 Februari 2017

detikHealthIbu & AnakPenyebab ASI Menggumpal pada Ibu Menyusui Penyebab ASI Menggumpal pada Ibu Menyusui

Suherni Sulaeman - detikHealth
Kamis, 23/02/2017 17:04 WIB

Penyebab ASI Menggumpal pada Ibu Menyusui
Jakarta, Masa-masa indah menjadi seorang ibu adalah menyusui, demikian kata banyak orang. Tentunya ASI merupakan nutrisi terbaik sekaligus upaya menumbuhkan ikatan ibu dengan bayi. Sayangnya, ada kondisi di mana menyusui jadi peristiwa yang kurang menyenangkan.

Seperti yang belum banyak kita ketahui, ibu kadang tidak bisa menikmati momen menyusui buah hatinya lantaran adanya penyumbatan pada saluran ASI atau radang payudara sehingga muncul gumpalan dengan rasa sakit. Pada kebanyakan kasus, hal ini biasanya terjadi pada awal-awal menyusui.

Dokter laktasi dan ibu menyusui RS Permata, Depok, dr Asti Praborini, SpA, IBCLC, menjelaskan, sumbatan yang terjadi pada saluran ASI umumnya terjadi karena payudara tertekan oleh suatu benda dalam durasi yang cukup lama, misalnya pemakaian bra atau pakaian yang terlalu ketat, atau bisa juga karena pengeluaran ASI yang kurang efektif.

Baca juga: Kurang Asupan ASI Bisa Picu Demam pada Bayi Baru Lahir?

"Pengeluaran ASI yang kurang efektif biasanya disebabkan oleh hisapan bayi yang kurang optimal untuk mengosongkan payudara, yang paling sering adalah bayi mempunyai kelainan anatomi pada mulutnya," terang dr Asti.

Selain itu, kata dr Asti, pengeluaran ASI yang tidak efektif juga terjadi apabila sebelumnya bayi menggunakan dot atau empeng. Seperti yang telah kita ketahui, bahwa penggunaan dot atau empeng akan mengubah hisapan bayi.

"Bayi cenderung hanya menetek di puting. Akibatnya ibu dapat mengalami sumbatan saluran ASI atau bengkak berulang pada payudara," ungkapnya lagi.

Jika ibu mengalami hal ini, jangan dulu panik ya. Supaya keluhan berkurang, ibu disarankan untuk mengeluarkan ASI yang berlebih dengan menggunakan alat pompa atau tangan. Kemudian, usai menyusui sebaiknya jangan biarkan ada air susu tersisa agar ASI tak kembali tersumbat.

Selanjutnya, untuk meredakan rasa sakit akibat sumbatan saluran ASI, ibu bisa mengompres payudara dengan air hangat sembari melakukan pijatan lembut pada area payudara di mana penggumpalan air susu terjadi.



Akademi Kebidanan Ummi Khasanah Yogyakarta. AKBIDUK Jogja. Pendaftaran PMB Akbid. AKBID Kebidanan. Mau jadi Bidan Profesional dan handal kunjungi : www.akbiduk.ac.idAkbid di Jogja Akbid Ummi Khasanah Yogyakarta.


Sumber : http://health.detik.com/read/2017/02/23/165940/3430313/764/penyebab-asi-menggumpal-pada-ibu-menyusui

Perut Masih Saja Besar Usai Melahirkan, Apa Sebabnya?



Adis Lenggogeni - detikHealth
Rabu, 07/05/2014 15:24 WIB

Perut Masih Saja Besar Usai Melahirkan, Apa Sebabnya?
Jakarta, Selama 9 bulan, perut ibu hamil terus membesar akibat pertumbuhan janin yang dikandungnya. Begitu melahirkan, rupanya perut tidak serta-merta mengecil begitu saja. Ada yang tetap kendur, bahkan hingga berbulan-bulan berikutnya.

Dokter kandungan dari RS Brawijaya, dr Prima Progestian, SpOG mengatakan bahwa menyusui pada dasarnya bisa mengembalikan perut ke bentuk semula. Secara teori, menyusui akan membuat banyak kalori terbuang. Namun tentunya, menyusui bukan satu-satunya faktor yang mempengaruhi.

"Pola makannya juga, pola makan selama menyusui," kata dr Prima kepada detikHealth, seperti ditulis Rabu (6/5/2014).

Saat menyusui, umumnya ibu-ibu makan lebih banyak daripada biasanya. Nah, jika si ibu mengimbanginya juga dengan olahraga atau aktivitas fisik lainnya, maka berat badannya akan lebih cepat turun. Lain halnya jika lebih banyak diam, maka bentuk tubuhnya akan tetap begitu-begitu saja.

Sementara itu, dr Febriansyah Darus SpOG(K) dari RSIA Taman Puring mengatakan bahwa perut akan kembali ke bentuk normal setelah melahirkan. Biasanya, setelah 40 hari masa nifas. Namun lagi-lagi, olahraga juga mempengaruhi di samping juga elastisitas kulit.

Beberapa ibu menggunakan korset untuk mempercepat kembalinya perut ke bentuk semula. Menurut dr Darus, anggapan ini tidak sepenuhnya benar. Menggunakan korset hanya membuat perut terasa lebih nyaman, bukan benar-benar mengecilkan ukurannya.

"Ibu pakai korset perutnya bisa jadi kencang, tapi untuk mengecilkan perut tidak," kata dr Darus.

Kesimpulannya, bila ingin bentuk perut cepat kembali normal sehabis melahirkan maka jangan tinggalkan kewajiban menyusui. Jaga pola makan, dan lakukan aktivitas fisik agar terjadi pembakaran kalori untuk melumerkan lemak-lemak penyebab perut bergelambir.

(vit/vit)


Akademi Kebidanan Ummi Khasanah Yogyakarta. AKBIDUK Jogja. Pendaftaran PMB Akbid. AKBID Kebidanan. Mau jadi Bidan Profesional dan handal kunjungi : www.akbiduk.ac.idAkbid di Jogja Akbid Ummi Khasanah Yogyakarta.

Sumber : http://health.detik.com/read/2014/05/07/152432/2576083/775/perut-masih-saja-besar-usai-melahirkan-apa-sebabnya

Olahraga Seperti Apa yang Ideal untuk Wanita Pasca Melahirkan?

Eny Kartikawati - wolipop
Olahraga Seperti Apa yang Ideal untuk Wanita Pasca Melahirkan?
Jakarta - Penampilan Doutzen Kroes dengan perut kencang dan rata lima bulan pasca melahirkan menarik perhatian penonton fashion show Victoria's Secret 2014. Tubuhnya yang sudah kembali seksi itu didapatnya bukan dengan jalan instan seperti minum obat pelangsing. Doutzen menjalani olahraga tidak lama setelah dia melahirkan anak keduanya. 

Tidak sedikit wanita yang merasa ragu untuk langsung berolahraga setelah melahirkan seperti yang dilakukan Doutzen dan model Victoria's Secret lainnya. Apakah memang sebenarnya wanita yang baru melahirkan dapat melakukan aktivitas fisik seperti olahraga setelah mereka pulih?

"Sebenarnya, dapat dilakukan sedini mungkin, di mana ibu yang setelah melahirkan (normal-red) tidak harus istirahat setiap hari, tapi bisa latihan sesuai kemampuan masing-masing, jangan terlalu berat. Jangan memikirkan turunkan berat badan dulu karena akan mengurangi produksi ASI-nya,” ungkap Dr. Michael Triangto, SpKO, yang berbincang dengan wolipop beberapa waktu lalu.

Dalam masa nifas atau masa 40 hari setelah melahirkan, Anda sudah bisa melakukan olahraga ringan di rumah, seperti stretching saja atau latihan beban. Setelah melalui masa tersebut, Dr. Michael menyarankan untuk 'memanfaatkan' si kecil sebagai beban saat latihan. Ajak bayi Anda bermain dengan mengangkat tubuhnya ke atas kemudian diturunkan kembali secara perlahan.

"Bisa latihan di rumah atau latihan bersama bayinya, misalnya mau latihan otot lengan daripada pakai beban berat lebih baik pakai bayinya,” jelas pria yang hobi jalan-jalan serta membaca itu.

Anda harus membuat jadwal latihan yang sesuai setelah melahirkan untuk membantu pembakaran lemak serta pengencangan otot. Bila ingin melakukan latihan kardio, jalan saja keliling kompleks rumah entah pagi atau sore selama 30 menit.

Setelah melatih otot kaki, Anda bisa lanjut dengan latihan beban. Arahkan latihan pada area dada, baik atas, tengah, maupun bawah. Variasikan dengan melatih otot punggung dan pinggang Anda untuk menopang tubuh agar menjadi tegak serta mengurangi tarikan pada payudara.

Pakailah beban yang ringan, tapi repetisinya (gerakan ulang) boleh sekitar 10 hingga 12 kali sesuai kemampuan Anda. Lakukan olahraga secara rutin tiga hingga lima kali dalam seminggu.

"Seminggu dua sampai tiga kali saja. Kalau jalan 30 menit, latihan beban juga 30 menit. Hal itu juga termasuk melakukan stretching yang disesuaikan dengan tingkat kemampuan masing-masing orang," papar Michael, dokter olahraga lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Ketika melakukan olahraga pasca melahirkan ini, ada yang perlu diingat para wanita. Menurut Dr. Michael, latihan dengan intensitas yang tinggi dapat merusak produksi ASI. Misalnya latihan beban selama satu jam dengan beban yang terlalu berat, berlari, dan melompat. Latihan tersebut bisa menimbulkan gangguan keseimbangan hormon yang menurunkan produksi ASI. Selain gangguan hormon, olahraga dengan intensitas tinggi juga dapat mengakibatkan cedera. Cedera terjadi karena Anda masih kelebihan berat badan.

"Hal yang lain lagi, misalnya berlari atau melompat akan menyebabkan payudara terguncang, kalau dilakukan dalam waktu yang lama akan terasa nyeri di dada karena berat ada ASI, kemudian dapat menimbulkan luka pada area puting," pungkas Michael.
(eny/fer)

Akademi Kebidanan Ummi Khasanah Yogyakarta. AKBIDUK Jogja. Pendaftaran PMB Akbid. AKBID Kebidanan. Mau jadi Bidan Profesional dan handal kunjungi : www.akbiduk.ac.idAkbid di Jogja Akbid Ummi Khasanah Yogyakarta.

Sumber : http://wolipop.detik.com/read/2014/12/04/164501/2768002/857/olahraga-seperti-apa-yang-ideal-untuk-wanita-pasca-melahirkan

Peneliti AS Katakan Ibu-ibu Diperbolehkan Makan Jelang Bersalin

Rahma Lillahi Sativa - detikHealth
Sabtu, 18/02/2017 17:09 WIB

Peneliti AS Katakan Ibu-ibu Diperbolehkan Makan Jelang Bersalin
Jakarta, Pada praktiknya, wanita yang sedang menjalani proses persalinan tidak diperbolehkan untuk mengonsumsi apapun, kecuali mengemut es batu atau minum air beberapa teguk saja.

Dalam sejarahnya, mengonsumsi makanan padat jelang persalinan tidak diperbolehkan karena dikhawatirkan akan menyebabkan sang ibu tersedak. Utamanya karena dulunya kebanyakan ibu yang melahirkan akan disuntik bius total sehingga tidak memiliki kendali akan tubuhnya.

Namun seiring dengan berjalannya waktu, penggunaan bius total dalam persalinan perlahan mulai ditinggalkan. Hanya saja, panduan untuk ibu melahirkan boleh makan atau tidak jelang persalinan masih sama.

Untuk itu peneliti dari Thomas Jefferson University di Philadelphia mencoba menggabungkan data dari 10 studi untuk membandingkan kondisi wanita yang hanya diperbolehkan minum air saja dengan yang makan makanan lebih banyak jelang persalinan.

Total responden yang dilibatkan adalah 3.982 orang. Kesemuanya hanya melahirkan satu anak, bukannya anak kembar, dan tidak berisiko menjalani persalinan secara caesar.

Dari sekian studi tersebut ada yang mengatakan wanita boleh minum madu atau sirup sebelum melahirkan, ada juga yang memperbolehkan semua jenis makanan.

"Tetapi tak ada yang benar-benar bisa memastikannya, dan berapa banyak yang bisa dikonsumsi," kata salah satu peneliti, Dr Vincenzo Berghella.

Baca jugaPersiapan Melahirkan, Ibu Hamil Perlu Tahu Alasan Tak Boleh Sembarang Mengejan
Faktanya, dari hasil pengamatan ditemukan bahwa wanita yang tidak dibatasi untuk makan jelang persalinan tidak mengalami peningkatan risiko komplikasi, termasuk muntah atau tersedak saat penggunaan bius total.

Bahkan mereka yang diperbolehkan makan atau minum lebih banyak dilaporkan memiliki durasi persalinan yang lebih pendek, yaitu rata-rata hanya selama 16 menit, dibandingkan dengan yang makannya dibatasi.

Berghella beralasan, bila seorang ibu yang akan melahirkan mendapatkan hidrasi yang baik dan memiliki kecukupan karbohidrat dalam tubuhnya, maka otot-otot tubuhnya akan bekerja lebih baik.

"Rahim itu kan sebagian besar terdiri atas otot, sehingga bila asupannya terjaga, persalinan menjadi lebih mudah," katanya seperti dilaporkan Reuters.

Temuan ini juga diamini oleh hasil studi lainnya yang mengungkapkan bahwa wanita yang memperoleh banyak cairan dapat melahirkan lebih cepat daripada yang tidak.


Akademi Kebidanan Ummi Khasanah Yogyakarta. AKBIDUK Jogja. Pendaftaran PMB Akbid. AKBID Kebidanan. Mau jadi Bidan Profesional dan handal kunjungi : www.akbiduk.ac.idAkbid di Jogja Akbid Ummi Khasanah Yogyakarta.


Sumber : http://health.detik.com/read/2017/02/18/165720/3425993/764/peneliti-as-katakan-ibu-ibu-diperbolehkan-makan-jelang-bersalin

Sering Minum Antibiotik Saat Hamil, Anak Berisiko Gangguan Paru-paru



Rahma Lillahi Sativa - detikHealth
Minggu, 19/02/2017 08:17 WIB

Sering Minum Antibiotik Saat Hamil, Anak Berisiko Gangguan Paru-paru
Jakarta, Mengandung merupakan 'tugas' yang berat, salah satunya karena ibu harus menjaga kesehatan dirinya sendiri agar tidak berdampak pada kesehatan janin. Akan tetapi bagaimana jika ibu jatuh sakit?

Ketika seorang ibu hamil sakit, dokter dapat memilihkan obat yang tidak berisiko bagi mereka. Namun bila ada ibu yang nekat minum obat sendiri, terutama antibiotik, maka ini bisa berisiko bagi si janin.

Penelitian terbaru dari Cincinnati Children's Hospital Medical Center mengungkap konsumsi antibiotik dalam waktu lama dapat mengganggu sistem imun atau kekebalan janin dan menyebabkan masalah kesehatan pada si anak. Dalam hal ini adalah munculnya risiko pneumonia pada si anak.

Hal ini terbukti dari hasil pengamatan peneliti terhadap sekelompok anak tikus. Faktanya, induk tikus yang sering diberi antibiotik akan melahirkan anakan yang berisiko tinggi mengalami pneumonia atau radang paru-paru.

Baca juga: Antibiotik yang Tidak Boleh Diminum Saat Berencana Hamil 

Lantas apa hubungannya? Salah satu peneliti, Hitesh Deshmukh, MD, PhD menjelaskan, ternyata sistem pertahanan tubuh makhluk hidup yang kuat didasarkan pada aliran sinyal molekuler yang terjadi akibat tubuh bereaksi terhadap adanya bakteri-bakteri baik yang berkoloni di dalam usus.

Sinyal inilah yang memberikan 'perintah' kepada paru-paru kapan tubuh perlu membangun sel-sel imun, berapa banyak dan dimana saja mereka akan ditempatkan.

Persoalannya, ketika antibiotik masuk ke tubuh, obat ini akan menghilangkan bakteri baik tadi, dan otomatis memutus sinyal penting di antara sistem imun dengan bakteri dalam usus. Akibatnya, paru-paru juga ikut melemah. Demikian seperti dilaporkan Medical Xpress.

Ditambah lagi, proses pembentukan sistem imun pada bayi menghabiskan waktu yang cukup panjang. Dan sekali terjadi gangguan di tengah-tengah proses itu, maka kerusakannya bisa saja bersifat permanen.

"Itulah mengapa kelebihan antibiotik dapat membantu menjelaskan mengapa seseorang yang tidak memiliki risiko genetik untuk terserang asma atau penyakit paru lainnya bisa muncul," lanjut Hitesh.

Baca juga: Ini yang Harus Diperhatikan Jika Ibu Hamil Terpaksa Minum Obat 

dr M Nurhadi Rahman, SpOG dari RSUP Dr Sardjito Yogyakarta pernah berpesan, jika ibu hamil sakit dan terpaksa harus minum obat, penggunaan obat-obatannya dapat dikonsultasikan dengan dokter terlebih dahulu.

Untuk flu dan sakit gigi misalnya, dokter akan meresepkan obat yang kandungannya hanya parasetamol saja tanpa ada campuran lain. Bukan hanya jenis obat, cara pemberiannya juga harus diperhitungkan demi keamanan janin dalam kandungan.

Dokter juga tidak menganjurkan untuk melakukan swamedikasi atau pengobatan sendiri, termasuk ketika memilih produk obat tradisional.

"Kalau beli di jalan atau yang tidak bersertifikasi, walaupun herbal kita tidak pernah tahu komposisi yang digunakan aman atau tidak. Jadi, sebaiknya dihindari saja," pesan dr Nurhadi kepada detikHealth beberapa waktu lalu.(lll/vit)


Akademi Kebidanan Ummi Khasanah Yogyakarta. AKBIDUK Jogja. Pendaftaran PMB Akbid. AKBID Kebidanan. Mau jadi Bidan Profesional dan handal kunjungi : www.akbiduk.ac.idAkbid di Jogja Akbid Ummi Khasanah Yogyakarta.


Sumber : http://health.detik.com/read/2017/02/19/081733/3426161/1299/sering-minum-antibiotik-saat-hamil-anak-berisiko-gangguan-paru-paru

Hal-hal yang Perlu Diperhatikan Jika Ibu Hamil Ingin Berenang

Radian Nyi Sukmasari - detikHealth
Minggu, 01/01/2017 12:35 WIB

Hal-hal yang Perlu Diperhatikan Jika Ibu Hamil Ingin Berenang
Jakarta, Berenang merupakan salah satu olahraga yang menyenangkan dan bisa dilakukan oleh semua orang. Tapi, bagaimana jika olahraga ini dilakukan oleh ibu hamil?

Menurut dr Alfiben, SpOG dari RS Permata Depok, berenang pada ibu hamil merupakan hal yang baik. Karena dapat menyehatkan tubuh serta membantu melatih pernapasan sang ibu.

Namun sebelum berenang, ada beberapa hal yang mesti ibu perhatikan, di antaranya ibu harus melakukan pemanasan sebelum berenang, tidak memaksakan kondisi fisik hingga kelelahan, dan berenang di air yang tidak terlalu dingin. 

"Pemanasan untuk ibu hamil bisa seperti stretching dan tarik napas. Pemanasan perlu ya biar nggak kram," ucap dokter yang praktik di RS Permata Depok ketika berbincang dengan detikHealth, Kamis (29/12/2016).

Baca jugaMemasuki Trimester Ketiga, Ibu Hamil Tak Disarankan untuk Berenang

"Kalau berapa lama waktu berenang pada ibu hamil sih jangan sampai kelelahan aja. Kalau udah lelah ya istirahat jangan dipaksakan," sambung dr Alfiben.

Sementara dikutip Fit Pregnancy, ahli kebugaran dan penulis 'Fit and Healthy Pregnancy: How to Stay Strong and in Shape for You and Your Baby', Kristina Pinto, EdD, mengatakan berenang merupakan olahraga yang sangat dianjurkan untuk ibu hamil. Sebab, berenang tidak memberi tekanan pada sendi dan ligamen tubuh.

"Daya apung di air juga membuat ibu lebih mudah dalam melakukannya (berenang). Selain melakukan gaya renang tertentu, berjalan di air kolam renang saja juga sudah cukup bagus," kata Pinto.


Akademi Kebidanan Ummi Khasanah Yogyakarta. AKBIDUK Jogja. Pendaftaran PMB Akbid. AKBID Kebidanan. Mau jadi Bidan Profesional dan handal kunjungi : www.akbiduk.ac.idAkbid di Jogja Akbid Ummi Khasanah Yogyakarta.


Sumber : http://health.detik.com/read/2017/01/01/122652/3385493/1299/hal-hal-yang-perlu-diperhatikan-jika-ibu-hamil-ingin-berenang

Ini Alasannya Gerakan Janin Ada yang Terasa dan Tidak Terasa

Puti Aini Yasmin - detikHealth
Kamis, 05/01/2017 11:04 WIB

Ini Alasannya Gerakan Janin Ada yang Terasa dan Tidak Terasa
Jakarta, Dapat merasakan gerakan sang janin ketika dalam kandungan merupakan hal yang luar biasa bagi ibu. Walaupun, ada ibu yang 'telat' merasakan gerakan bayinya, atau bahkan, sama sekali tidak merasakan hal tersebut.

Terkait hal ini, dr Khanisyah Erza Gumilar, SpOG dari Divisi Fetomaternal RSU Dr Soetomo Surabaya mengatakan gerakan janin dalam kndungan dikenal dengan sebutan quickening. Nah, munculnya gerakan tersebut memang berbeda-beda pada setiap ibu.

"Pada ibu yang baru pertama kali hamil, gerakan janin bisa dirasakan pada usia 5 bulan. Namun pada ibu yang hamil untuk ke sekian kalinya, biasanya (dapat merasakan) lebih cepat yaitu pada usia 4 bulan," kata dr Erza kepada detikHealth baru-baru ini.

Nah untuk ibu yang merasakan gerakan janin pada usia dua bulan, dr Erza mengatakan hal tersebut bukan gerakan yang sesungguhnya melainkan hanya sugesti ibu. Karena normalnya, kata dr Erza, ibu baru dapat merasakan gerakan janin pada usia 5 bulan kehamilan.

Baca juga: Tendangan Bayi Ini Menyeramkan, Kakinya Sampai Keluar dari Rahim

Lantas, bagaimana pada ibu yang 'telat' merasakan gerakan janin, apakah hal tersebut normal? Menurut dokter yang juga praktik di RS Pendidikan Universitas Airlangga ini, telat merasakan gerakan janin merupakan hal yang wajar karena tingkat kepekaan setiap ibu berbeda-beda.

Ia menambahkan, gerakan janin sebenarnya sudah dimulai sejak usia kandungan 12 minggu dan dinamakan fetal movement, yaitu gerakan ketika embrio berubah menjadi janin.

"Tapi jelas ibu nggak bisa merasakan, kalau bisa artinya rahim ibu tipis banget," pungkas dr Erza.


Akademi Kebidanan Ummi Khasanah Yogyakarta. AKBIDUK Jogja. Pendaftaran PMB Akbid. AKBID Kebidanan. Mau jadi Bidan Profesional dan handal kunjungi : www.akbiduk.ac.idAkbid di Jogja Akbid Ummi Khasanah Yogyakarta.


Sumber : http://health.detik.com/read/2017/01/05/110115/3388220/1299/ini-alasannya-gerakan-janin-ada-yang-terasa-dan-tidak-terasa

Ibu Hamil Jinjit untuk Ambil Barang di Tempat Tinggi, Bahayakah?

Radian Nyi Sukmasari, Puti Aini Yasmin - detikHealth
Sabtu, 07/01/2017 08:08 WIB

Ibu Hamil Jinjit untuk Ambil Barang di Tempat Tinggi, Bahayakah?
Jakarta, Dalam beberapa kondisi, berjinjit dapat membantu seseorang meraih benda di tempat yang tinggi, misalnya di atas lemari. Nah, bagaimana jika ini dilakukan oleh ibu hamil?

Menurut dr Khanisyah Erza Gumilar, SpOG dari Divisi Fetomaternal RSU Dr Soetomo Surabaya, berjinjit untuk meraih benda di tempat yang tinggi merupakan hal yang dapat memanipulasi fisik ibu hamil. Sehingga ketika hal itu dilakukan, akan ada risiko bagi kondisi sang ibu.

"Perubahan fisik dari bungkuk-berdiri-bungkuk-berdiri itu kan memanipulasi gerakan di sekitar pinggang dan berisiko. Jadi harusnya meminimalisir aktivitas seperti berjinjit untuk mengambil barang selama kehamilan," kata dr Erza kepada detikHealth baru-baru ini.

Dokter yang juga praktik di RS Pendidikan Universitas Airlangga itu menambahkan, melakukan aktivitas yang cukup berat bisa membuat ibu hamil stres. Aktivitas yang cukup berat ini termasuk juga berjinjit untuk meraih barang di tempat tinggi.

Baca jugaCatat, Ini Risiko Jika Wanita Hamil di Usia Terlalu Muda

"Ibu hamil harus rileks, disayang dan dimanja. Jadi intinya ibu harus dijauhkan dari hal-hal yang membuat stres seperti pikiran, tenaga dan waktu," kata dr Erza.

Dihubungi terpisah, dr Alfiben SpOG dari RS Permata Depok mengatakan berjinjit untuk mengambil barang di tempat yang tinggi harus dihindari karena merupakan hal yang berisiko. Misalnya saja terpeleset.

"Jadi sikap atau pekerjaan-pekerjaan yang ibu lakukan harus diperhatikan. Ibu harus nyaman, enak dan pasti berdirinya, kalau nggak pasti berdirinya kan bisa kepeleset," ucap dr Alfiben.


Akademi Kebidanan Ummi Khasanah Yogyakarta. AKBIDUK Jogja. Pendaftaran PMB Akbid. AKBID Kebidanan. Mau jadi Bidan Profesional dan handal kunjungi : www.akbiduk.ac.idAkbid di Jogja Akbid Ummi Khasanah Yogyakarta.


Sumber : http://health.detik.com/read/2017/01/07/080034/3389967/1299/ibu-hamil-jinjit-untuk-ambil-barang-di-tempat-tinggi-bahayakah

Ini Penyebab Kulit di Beberapa Bagian Tubuh Menghitam Saat Hamil

Puti Aini Yasmin - detikHealth
Sabtu, 07/01/2017 15:00 WIB

Ini Penyebab Kulit di Beberapa Bagian Tubuh Menghitam Saat Hamil
Jakarta, Ketika hamil, perubahan fisik lumrah dialami ibu. Termasuk pada kulit, beberapa ibu hamil ada yang kulit di bagian tubuh tertentu seperti leher dan ketiak, kadi lebih hitam. Kenapa ya hal ini terjadi?

dr Khanisyah Erza Gumilar, SpOG dari Divisi Fetomaternal RSU Dr Soetomo Surabaya mengatakan perubahan warna kulit di beberapa bagian tubuh ibu saat hamil merupakan hal yang normal. dr Erza mengatakan hal ini terjadi karena pengaruh hormon kehamilan.

"Jadi pada saat hamil ada pengaruh hormon terhadap melanin atau yang mewarnai kulit kita. Biasanya yang berubah jadi lebih hitam itu kulit di lipatan ketiak, selangkangan atau leher," kata dr Erza kepada detikHealth baru-baru ini. 

dr Erza menambahkan, pengaruh hormon kehamilan juga menentukan bagian tubuh yang menjadi lebih gelap. Nah untuk mengatasinya, ibu dapat memberikan krim pemutih pada daerah yang menjadi gelap. 

Baca juga: Perubahan Pada Kulit Ini Bisa Anda Alami Saat Hamil

Walaupun begitu, dokter yang juga praktik di RS Pendidikan Universitas Airlangga mengatakan kulit yang menghitam saat hamil dapat hilang dengan sendirinya. "Selesai bersalin, kulit bisa berangsur-angsur kembali seperti semula," sambung dr Erza.

Senada dengan dr Erza, dr Alfiben SpOG dari RS Permata Depok mengatakan perubahan warna kulit pada ibu hamil terjadi karena pengaruh hormon. Hal tersebut dikenal dengan nama hiperpigmentasi.

"Jadi kadar hormon estrogen pada kulit rendah dan hiperpigmentasi kulit meningkat. Kalau hamilnya selesai juga berkurang itu (kulit yang lebih gelap)." kata dr Alfiben.


Akademi Kebidanan Ummi Khasanah Yogyakarta. AKBIDUK Jogja. Pendaftaran PMB Akbid. AKBID Kebidanan. Mau jadi Bidan Profesional dan handal kunjungi : www.akbiduk.ac.idAkbid di Jogja Akbid Ummi Khasanah Yogyakarta.


Sumber : http://health.detik.com/read/2017/01/07/145706/3390167/1299/ini-penyebab-kulit-di-beberapa-bagian-tubuh-menghitam-saat-hamil

Paparan Asap Rokok Sebelum Hamil Sudah Bahayakan Calon Janin

Rahma Lillahi Sativa - detikHealth
Minggu, 08/01/2017 14:11 WIB


Paparan Asap Rokok Sebelum Hamil Sudah Bahayakan Calon Janin
Jakarta, Tak hanya perokok aktif, yang pasif juga banyak dirugikan hanya karena terpapar asapnya. Bahkan pada wanita, paparan asap rokok sebelum hamil pun bisa berdampak pada calon janinnya kelak.

Setidaknya inilah yang diungkap peneliti dari Duke University, Carolina Utara. Dalam hal ini peneliti melakukan percobaan pada tikus.

Sejumlah tikus dipapari asap rokok sebelum kemudian dipertemukan dengan pasangannya. Oleh peneliti, hasilnya nanti akan dibandingkan dengan saat si tikus dipapari asap rokok ketika kemudian mengandung, baik di awal maupun akhir kehamilan.

Begitu anakannya lahir, peneliti mengamati otak mereka, terutama yang sering dipengaruhi oleh nikotin dan asap rokok. Hasilnya tidak mengejutkan, kerusakan terburuk terjadi pada otak anakan tikus yang terpapar asap rokok di akhir kehamilan.

Baca jugaTerpapar Nikotin, Ribuan Anak di Ladang Tembakau Bisa Mengalami Gejala Keracunan 

Namun ternyata efek yang sama juga terlihat pada anakan ini kendati paparan asapnya terjadi ketika indukan tikus belum mengandung. Sama-sama terjadi kerusakan otak, yaitu pada bagian yang berfungsi mengendalikan kemampuan belajar dan daya ingat, serta pengatur mood.

Peneliti meyakini bahwa kerusakan terjadi karena komponen asap rokok yang masih berada di dalam tubuh. Komponen ini memang bisa bertahan dalam tubuh selama beberapa waktu setelah terpapar pertama kali.

Akibatnya ketika kemudian si indukan hamil, maka lingkungan tubuhnya sudah tercemar dan hal ini berdampak pada janin yang dikandungnya. 

"Tidak menutup kemungkinan bahan kimia yang ada di asap rokok dapat mengubah metabolisme atau status hormonal seorang wanita, sehingga mempengaruhi kehamilannya kelak," papar ketua tim peneliti, Dr Theodore Slotkin seperti dilaporkan The Sun.

Slotkin menambahkan bahan kimia yang terkandung dalam asap pembakaran rokok juga bisa saja menyebabkan perubahan epigenetik pada sel telur, yang kemudian berdampak pada aktivitas gen-gen yang bertugas mengontrol fungsi otak.

"Temuan kami menekankan pentingnya menghindari paparan asap rokok tidak hanya saat hamil, tetapi juga jauh sebelumnya. Kalau perlu semua wanita yang sedang berada di usia produktif harus menghindarinya," tutup Slotkin.


Akademi Kebidanan Ummi Khasanah Yogyakarta. AKBIDUK Jogja. Pendaftaran PMB Akbid. AKBID Kebidanan. Mau jadi Bidan Profesional dan handal kunjungi : www.akbiduk.ac.idAkbid di Jogja Akbid Ummi Khasanah Yogyakarta.


Sumber : http://health.detik.com/read/2017/01/08/140533/3390518/1299/paparan-asap-rokok-sebelum-hamil-sudah-bahayakan-calon-janin

Banyak Begadang pada Ibu Hamil Tingkatkan Risiko Diabetes

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Selasa, 10/01/2017 16:30 WIB

Banyak Begadang pada Ibu Hamil Tingkatkan Risiko Diabetes
Jakarta, Tidur malam sangat dibutuhkan oleh tubuh, tidak hanya untuk memulihkan kebugaran melainkan memberi kesempatan bagi sel-sel tubuh untuk memperbaiki diri. Pada ibu hamil, kurang tidur bahkan bisa berdampak pada kandungannya.

Sebuah penelitian menyebut, ibu hamil yang tidur malam kurang dari 6 jam sehari punya risiko 2 kali lipat mengalami Gestational Diabetes Melitus (GDM), dibandingkan ibu hamil yang tidur malam 7-8 jam sehari. GDM merupakan jenis diabetes yang dialami saat kehamilan.

Segera setelah melahirkan, masalah yang berhubungan dengan diabetes gestational memang hilang dengan sendirinya. Namun berdasarkan penelitian, 1 dari 10 perempuan dengan GDM akan kembali mengalami diabetes dalam 5 tahun setelahnya.

Risiko jangka panjang juga dialami oleh anak yang dilahirkannya. Sekitar 3 dari 4 anak yang lahir dari ibu dengan GDM lebih rentan mengalami obesitas dan terserang diabetes ketika beranjak dewasa.

Baca jugaOrang Tua Obesitas, Tumbuh Kembang Anak Bisa Terhambat 

Fakta tersebut terungkap dalam sebuah penelitian di National University Hospital, Singapura. Hasil penelitian tersebut mengatakan 27,3 persen ibu hamil yang hanya tidur malam kurang dari 6 jam punya GDM. Sedangkan pada ibu hamil yang tidur malam 7-8 jam, risikonya hanya 16,8 persen.

Temuan ini juga konsisten dengan hasil penelitian selama ini bahwa kurang tidur berdampak pada risiko diabetes secara umum, bukan hanya pada ibu hamil. Beberapa penelitian dengan skala lebih kecil juga pernah secara konsisten mengaitkan kurang tidur dengan risiko GDM.

"Ini menegaskan kemungkinan bahwa pola tidur yang sehat bisa mengurangi risiko mengalami hiperglikemia dan GDM," kata Prof Joshua Gooley yang memimpin penelitian ini, seperti dikutip dari News-medical.net.


Akademi Kebidanan Ummi Khasanah Yogyakarta. AKBIDUK Jogja. Pendaftaran PMB Akbid. AKBID Kebidanan. Mau jadi Bidan Profesional dan handal kunjungi : www.akbiduk.ac.idAkbid di Jogja Akbid Ummi Khasanah Yogyakarta.


Sumber : http://health.detik.com/read/2017/01/10/162026/3392405/1299/banyak-begadang-pada-ibu-hamil-tingkatkan-risiko-diabetes

Tekanan Darah Ibu Sebelum Hamil Bisa Tunjukkan Jenis Kelamin Bayi

Radian Nyi Sukmasari - detikHealth
Jumat, 13/01/2017 12:14 WIB

Tekanan Darah Ibu Sebelum Hamil Bisa Tunjukkan Jenis Kelamin Bayi
Jakarta, Bakal mengetahui jenis kelamin si buah hati bisa jadi momen yang membuat ayah dan ibu deg-degan. Ya, meskipun USG bisa pula dijadikan alat memprediksi jenis kelamin si kecil nantinya.

Namun, baru-baru ini sebuah studi mengungkapkan bahwa tekanan darah ibu berkaitan dengan jenis kelamin si bayi lho. Adalah studi yang dilakukan peneliti di Mount Sinai Hospital di Toronto dan Lunendfeld-Tanenbaum Research Institute, yang mengamati 1.411 wanita yang berencana untuk hamil.

Peneliti mengamati responden sejak sebelum hamil, hamil, dan melahirkan. Para responden diminta data seperti usia, pendidikan, riwayat merokok, lingkar pinggang, kadar koleseterol LDL dan HDL, trigliserida, kadar gula darah dan tekanan darah. Setelah melahirkan, diketahui 739 wanita melahirkan bayi laki-laki dan 672 wanita melahirkan bayi perempuan.

"Kami menemukan tekanan darah sistolik yang tinggi sebelum hamil ditemukan pada wanita yang mengandung anak laki-laki dibanding anak perempuan dengan nilai 106 mmHg dibanding 103,3 mmHg," kata salah satu peneliti yang juga ahli endokrinologi, Dr Ravi Retnakaran, dikutip dari Science Mag.

Ia mengatakan, studi ini menunjukkan bahwa tekanan darah wanita sebelum hamil merupakan faktor yang berkaitan dengan kemungkinan jenis kelamin bayi, yang sebelumnya belum dipertimbangkan. Sehingga, ke depannya mungkin saja tekanan darah wanita sebelum hamil selain dipertimbangkan untuk perencanaan kehamilan juga bisa dijadikan pertimbangan dalam memprediksi rasio jenis kelamin bayi.

Baca juga: Ekspresi Natural Ibu Saat Tahu Jenis Kelamin Bayinya Ini Jadi Viral

"Tapi ingat, studi ini tidak membuat hubungan sebab akibat karena bisa saja temuan ini murni kebetulan. Setidaknya, kita tahu bahwa informasi genetik dari seseorang dan juga kesehatan si ibu, bisa berpengaruh pada kondisi sang anak," kata Retnakaran dalam laporannya di American Journal of Hypertension.

Soal jenis kelamin bayi, dr Boy Abidin, SpOG (K), mengatakan jenis kelamin anak kelak ditentukan oleh sperma suami. Sehingga secara teori jenis kelamin anak bisa ditentukan dengan melakukan manipulasi sperma.

"Jika sperma dominan kromosom X maka anak akan selalu perempuan tapi kalau kromosom Y maka anak akan laki-laki. Dan jika fifty-fifty maka anak bisa laki-laki atau perempuan," tutur dr Boy.

dr Boy menambahkan waktu berhubungan intim juga bisa menentukan jenis kelamin anak. Kata dia, berhubungan intim sebelum masa subur dan ketika masa subur bisa berbeda.

"Untuk anak perempuan hubungan intim dilakukan 1-2 hari sebelum masa subur karena sperma kromosom Y akan mati. Sedangkan untuk anak laki-laki, dilakukan pada masa subur karena sperma karena kromosom Y larinya lebih cepat daripada kromosom X," imbuh dr Boy.


Akademi Kebidanan Ummi Khasanah Yogyakarta. AKBIDUK Jogja. Pendaftaran PMB Akbid. AKBID Kebidanan. Mau jadi Bidan Profesional dan handal kunjungi : www.akbiduk.ac.idAkbid di Jogja Akbid Ummi Khasanah Yogyakarta.


Sumber : http://health.detik.com/read/2017/01/13/121001/3395089/1299/tekanan-darah-ibu-sebelum-hamil-bisa-tunjukkan-jenis-kelamin-bayi